Artikel kali ini tidak akan membahas tentang pengertian cinta. Sebab cinta itu sesuatu yang sangat kompleks jika ingin didefenisikan. Telah banyak ahli yang menghabiskan umurnya hanya untuk mencari apa defenisi dari cinta, akan tetapi semakin cinta itu didefenisikan maka semakin cinta itu akan terbatasi oleh tembok-tembok fikiran dan interpretasi dari orang atau kelompok dengan latar belakang tertentu, atau pengalamannya.

Dalam tulisan kali ini saya ingin mencoba menggambarkan sebuah hubungan antara cinta dan logika, yang jika dipandang dari sudut pandang orang lain maka kebanyakan orang tidak bisa melihat hubungan antar cinta dan logika itu.

Dalam pemahaman saya, bahkan dalam cinta itu kita mengenal istilah “Logika cinta” yang memang sangat berbeda dari takaran logika atau akal biasa. Logika atau akal, secara umum, merupakan alat bantu manusia untuk membangun akal budi, dan membuat akal budi itu bekerja lebih cepat, lebih teliti, rasional dan aman. Atau dengan kata lain logika dimaksudkan untuk menghindari kesesatan, atau paling tidak mengurangi.

Lalu bagaimana dengan logika cinta. Saya yakin logika cinta itu kebanyakan menyimpang dari logika atau akal biasa. Itulah dia kekuatan cinta dimana bahkan logikapun dapat dibutakan oleh cinta. Sehingga logika tidak akan dapat dipisahkan dari masalah cinta. Akan tetapi menurut pandangan saya dalam proses menuju yang dinamakan “cinta” dalam artian hubungan antara sesama manusia, maka manusia baik itu perempuan dan laki-lakai akan melewati dua tahap proses logika. Sebagai contoh, seorang perempuan ketika mencari pasangan, maka perempuan akan sangat mempertimbangkan latar belakang pria calon pasangannya itu. Pria itu harus mapan dan punya asal-usul yang jelas. Akan tetapi ketika sampai pada cinta maka logika perempuan tadi akan luluh menjadi logika cinta yang bertolak belakang dengan logika umum.

Ketika seorang budak mencuri gelas majikannya akan sangat dipermasalahkan akan tetapi dalam kasus Romeo-Juliet dosa bunuh diri mereka bahkan tidak terlalu dipermasalahkan. Begitupun dengan kasus Syamsul Bahri yang melarikan istri Datuk Maringgi pun tidak dikecam atau dipermasalahkan. Sebab logika yang berjalan pada saat itu bukan logika atau akal biasa melainkan logika cinta. Tapi apakah kemudian dengan alasan logika cinta hal-hal yang sangat krusial seperti pada kasus Romeo-Juliet dan kasus Siti Nurbaya diabaikan begitu saja.

Jadi jelaslah hubungan antara Logika dan cinta seperti yang saya paparkan diatas. Akan tetapi kadang cinta seakan membuat manusia kehilangan daya nalar, kehati-hatian dan kedewasaan lahir dan batiniah yang semestinya digunakan dalam memaknai keagungan Cinta itu sendiri.

Saya kira demikian, semoga tulisan ini bermanfaat.

Advertisements